Kota Tua Jerusalem, Via Dolorosa, dan The Last Supper

  • Berita
  • 0
  • 04 Apr 2012 19:20

120406ajerusalem1.jpg
Liputan6.com, Jerusalem: Kota Tua Jerusalem sudah terlihat di depan mata. Benteng yang kokoh memanjang dan tegar berdiri  seolah menaungi sejarah panjang Kota Suci ini. Suasananya benar-benar klasik, tak ada basa-basi dan dibiarkan natural seperti apa adanya. Di Jerusalem, modernisasi dan kondisi tradisional dibiarkan tumbuh bersama dan dipelihara dengan baik.

Kendaraan kami berhenti di suatu tempat, lalu kami turun dan berjalan sedikit menyusuri sebuah pasar tradisional di Kota Lama Jerusalem menuju ke suatu perkampungan bernama Via Dolorosa yang berarti Jalan Salib atau Jalan Duka.

Sebutan Via Dolorosa atau Jalan Salib itu berkaitan dengan suatu peristiwa sejarah Perjalanan Salib Yesus. Peristiwa sejarah ini kemudian diimani oleh umat Katolik dan Kristen sebagai suatu rangkaian peristiwa imani dalam kerangka Karya Penyelamatan Allah bagi umat manusia.

Di Via Dolorosa ini terdapat beberapa tempat yang diyakini sebagai lokasi rangkaian Perjalanan Salib Yesus. Dimulai dari depan Benteng Antonia tempat Yesus dijatuhi hukuman mati oleh penguasa Kerajaan Romawi pada saat itu Pontius Pilatus dengan cara disalib, 2.000 tahun silam, kemudian proses perjalanan Yesus memanggul salib sambil menerima siksaan dari para tentara Romawi, hingga Yesus disalibkan di puncak bukit Kalvari atau dalam bahasa Ibrani disebut Golgota yang letaknya di luar benteng Kota Tua. Di puncak Kalvari itulah, kemudian Yesus wafat, dimakamkan, lalu bangkit dan naik ke surga.

Tempat-tempat yang disebut dengan Stasi atau Pemberhentian Perjalanan Salib itu kini dijadikan gereja-gereja kecil. Semuanya ada 14 stasi. Tradisi ziarah Jalan Salib ini mulai populer sejak abad ke-16.

Jalanan di Via Dolorosa berupa lorong-lorong yang seolah dibentengi oleh tembok-tembok kuno yang kokoh di kiri kanannya itu membawa suasana begitu klasik.

Lantai jalanan setapak itu terlihat mengkilap. Mungkin karena terinjak-injak ribuan peziarah dari seluruh dunia setiap harinya.

Menurut guide yang mengantar kami, jalanan setapak itu memang dibiarkan sebagaimana aslinya dulu. Begitu pula tembok kiri kanan di sepanjang lorong Via Dolorosa. Meskipun semuanya itu sudah mengalami pemugaran beberapa kali.  

Di sepanjang lorong jalan setapak kawasan Via Dolorosa banyak para pedagang menjajakan berbagai macam suvenir terutama yang berkaitan dengan perziarahan. Para pedagang itu adalah warga Israel keturunan Arab dan Armenia.


Usai mengikuti Perjalanan Salib Yesus di Via Dolorosa, saya melanjutkan napak tilas Yesus ke Kolam Bethesda dan Bukit Zaitun tempat Yesus ditangkap para prajurit Romawi. Dari bukit ini tampak jelas Lembah Kidron yang menjuntai memisahkan makam Muslim di bagian bawah dan Makam Yahudi di atas. Saya bisa melihat pemandangan indah punggung benteng Kota Tua Jerusalem, Kubah Kuning Dome of The Rock, dan kubah kehijauan Masjid Al Aqsa. Saat mentari menyinari kawasan ini pagi hari, betapa indah bagai siraman cahaya jatuh dari langit.  

Ketika hari menjelang siang saya beranjak menuju Holy Sepulchre atau Makam Kudus, lalu ke Ascention Chapel yang juga disebut Kapel Kenaikan Yesus ke surga. Tak terlalu jauh dari situ, saya pun melanjutkan perjalanan setapak menuju Pater Noster Church tempat Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami kepada para muridnya untuk pertama kali. Tempat ini sangat penuh oleh wisatawan peziarah dari berbagai negara. 

Yang tak akan mungkin saya lewatkan adalah melihat tempat Yesus dipenjarakan yakni di St Peter Galicantu. Penjara itu terletak di bawah tanah. Setelah itu barulah mengunjungi Taman Gethsemane yang menurut Kitab Suci Injil merupakan tempat Yesus berdoa sebelum disalibkan.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Udara sore menjelang pukul 16.00 waktu setempat di akhir Februari terasa sangat dingin apalagi angin berembus kencang. Tapi saya harus melihat dulu, tempat Yesus makan bersama ke duabelas rasul-Nya di Last Supper Room atau Ruang Perjamuan Terakhir yang letaknya berdekatan dengan makam Raja Daud atau David Tomb.

Kisah Perjamuan Terakhir ini menginspirasi perupa Leonardo da Vinci untuk menggoreskan lukisan yang amat terkenal itu: The Last Supper.

Like this article?

0 likes & 0 dislikes


Comments 0
Sign in to post a comment