Berita Terpopuler
Wisata Spiritual di Bali Makin Diminati
Wisata Edukasi di Museum Layang-layang
Anastasyia Putri
13/06/2010 07:23 | Pariwisata
Liputan6.com, Jakarta: Bermain layang-layang. Banyak orang pernah melakukannya. Namun, mungkin sedikit yang mengetahui bahwa di negeri ini ada museum khusus layang-layang. Namanya, Museum Layang-Layang Indonesia yang terletak di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan. "Ada 500 koleksi layang-layang bisa dilihat di sini," kata Supri, petugas Museum Layang-layang Indonesia, baru-baru ini.
Supri menambahkan, hampir setiap pekan ada kelompok anak-anak--biasanya datang dari sekolah, yang ingin mengetahui dan belajar membuat layang-layang. Kebanyakan dari mereka tidak pernah bermain layang-layang, mengingat permainan tradisional itu mulai jarang dimainkan karena tergeser dengan game online.
Padahal, kata Supri, bermain layang-layang sangat mengasyikkan. Selain menimbulkan rasa gembira, permainan dan membuat layang-layang juga bisa melatih motorik anak-anak. "Mereka akan terbiasa kreatif nantinya. Karena ada unsur menggambar dan membentuk dalam membuat layang-layang," lanjut Supri.
Supri menceritakan, layang-layang mulanya memang permainan tradisional di Indonesia. Pertama kali digunakan petani untuk mengusir burung yang merusak sawah mereka. Namun, belakangan, permainan ini disukai banyak orang, termasuk anak-anak. "Senang main layangan. Sebab, gambarnya bagus-bagus dan bisa terbang kayak burung," kata David, siswa TK yang mengikuti workshop membuat layang-layang.
Para orang tua juga senang dengan kehadiran Museum Layang-layang Indonesia. Sebab, banyak pelajaran yang diberikan kepada pengunjung museum, khususnya anak-anak. "Museum ini jelas bermanfaat, karena mengajarkan seni kepada anak-anak," ujar Asti, orang tua siswa yang mengantar anaknya mengikuti workshop. Selain ruang workshop, di museum ini juga ada ruang audiovisual dan ruang pamer.
Tak hanya membuat layang, para pengunjung jika bisa belajar membuat keramik. Bahkan, di waktu tertentu, mereka yang datang bisa belajar membatik, melukis payung, dan membuat kerajinan dari daur ulang kertas.(ULF)
Supri menambahkan, hampir setiap pekan ada kelompok anak-anak--biasanya datang dari sekolah, yang ingin mengetahui dan belajar membuat layang-layang. Kebanyakan dari mereka tidak pernah bermain layang-layang, mengingat permainan tradisional itu mulai jarang dimainkan karena tergeser dengan game online.
Padahal, kata Supri, bermain layang-layang sangat mengasyikkan. Selain menimbulkan rasa gembira, permainan dan membuat layang-layang juga bisa melatih motorik anak-anak. "Mereka akan terbiasa kreatif nantinya. Karena ada unsur menggambar dan membentuk dalam membuat layang-layang," lanjut Supri.
Supri menceritakan, layang-layang mulanya memang permainan tradisional di Indonesia. Pertama kali digunakan petani untuk mengusir burung yang merusak sawah mereka. Namun, belakangan, permainan ini disukai banyak orang, termasuk anak-anak. "Senang main layangan. Sebab, gambarnya bagus-bagus dan bisa terbang kayak burung," kata David, siswa TK yang mengikuti workshop membuat layang-layang.
Para orang tua juga senang dengan kehadiran Museum Layang-layang Indonesia. Sebab, banyak pelajaran yang diberikan kepada pengunjung museum, khususnya anak-anak. "Museum ini jelas bermanfaat, karena mengajarkan seni kepada anak-anak," ujar Asti, orang tua siswa yang mengantar anaknya mengikuti workshop. Selain ruang workshop, di museum ini juga ada ruang audiovisual dan ruang pamer.
Tak hanya membuat layang, para pengunjung jika bisa belajar membuat keramik. Bahkan, di waktu tertentu, mereka yang datang bisa belajar membatik, melukis payung, dan membuat kerajinan dari daur ulang kertas.(ULF)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...